Abdullah bin Umar bin Khaththab Cermin Tauladan dan Sikap Tawadlu

oleh Ajib Purnawan

Lahir pada setelah nabi Muhammad menjadi rasul selama 3 tahun. Ia seorang pemuda yang
luar biasa cerdasnya. Pemikirannya sepuluh tahun lebih dewasa dari usia yang sebenarnya. Tidak mengherankan, karena ia anak kesayangan Umar ibn Khaththab. Sejak kecil, Ibnu Umar sering bergaul dengan Nabi. Pantas jika ia termasuk periwayat Hadits terbanyak selain Aisyah RA dan Abu Hurairah. Sewaktu Perang Badar, Ibnu Umar ngotot ikut perang. Namun Nabi melarangnya, karena ia baru berumur 13 tahun. Kecintaannya kepada nabi SAW sangat mengagumkan! Ibnu Umar seorang Ahli Ibadah. Pendiriannya tegas. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang paling tidak bisa melihat penderitaan orang lain. Di samping cerdas, perasaannya sangat halus.

Ibnu Umar adalah orang yang pertama kali memahami makna di balik turunnya surat an-Nasr. Ayat ini turun ketika penaklukkan kota Makkah. Oleh Ibnu Umar diartikan sebagai pertanda berakhirnya tugas Nabi SAW. Seketika itu, Ibnu Umar menangis. Suatu malam, ia memarahi anak-anaknya karena menjamu para hartawan, sementara di luar banyak orang miskin kelaparan. "Kalian mengundang orang-orang yang kekenyangan, dan kalian biarkan orang-orang yang kelaparan!"

Teguran itu dilakukan bukan karena ia ingin cari muka di depan orang banyak. Ia jarang sekali menikmati kekayaannya seorang diri. Pasti ada anak yatim di sisinya. Begitu terkenalnya kedermawanan Ibnu Umar di kalangan fakir miskin, sampai-sampai mereka hafal betul jalan mana saja yang sering dilewatinya.

Ketika terjadi kemelut, siapa yang bakal menjadi pemimpin umat Islam setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan yang sampai menumpahkan darah orang-orang Islam, Ibnu Umar malah sembunyi. Padahal umat mengharapkan kesanggupannya untuk dibaiat, sampai datang kepadanya seseorang dan mengancam akan membunuhnya. Orang tersebut berkata, "Tak seorangpun yang lebih buruk perlakuannya kepada manusia selain kamu."
"Mengapa?", tanya Ibnu Umar sambil terperanjat.
Orang tersebut berkata, "Ulurkan tangan anda agar kami bisa memberikan baiat! Anda adalah pemimpin Islam dan putra dari seorang pemimpin." "Itu bagi yang setuju. Bagi yang tidak, bagaimana? Seperti orang musyrik dan gologan lain yang tidak menyetujuiku", Ibnu Umar menyela.
"Kita gempur mereka sampai mau memberikan baiat!"
Langsung terpikir di benak Ibnu Umar bau darah. Seandainya menjadi Khalifah, ia mesti memerangi mereka yang tidak setuju.
"Kalau demikian, saya lebih baik tidak usah menjadi siapa-siapa"•, kata Ibnu Umar tegas.
"Ibnu Umar bukannya lupa akan kehidupan dunia, tetapi ia tidak mau serakah untuk menikmatinya. Cukup sedikit saja yang ia nikmati. Malah ia pernah berdoa kepada Allah, "Ya Allah! Engkau mengetahui, jika tidak karena takut kepada-Mu, tentulah kami akan ikut berdesakkan dengan mereka memperebutkan dunia ini."
"Sepeninggal Utsman bin 'Affan yang terbunuh ketika sedang membaca al-Qur'an, suasana umat Islam begitu panas.

Itulah salah satu puncak dari perselisihan pendukung Ali dengan pendukung selainnya. Apalagi Muawiyah bin Abi
Sofyan juga bersaing mengincar jabatan puncak itu. Ibnu Umar tidak ingin tercebur dalam kekacauan yang lebih ruwet.
Sebab, semua yang bertikai tak lain adalah sahabat-sahabatnya, bahkan saudara-saudaranya sendiri.
Oleh: Ajib Purnawan (Mantan Koordinator Komisariat IMM UIN Sunan Kalijaga dan aktivis Komunitas Mahasiswa Sejarah Yogyakarta)