Nusantara dalam Lagu Koes Plus

Dua puluh dua tahun yang lalu Indonesia kehilangan seorang musisi besar. Tepatnya tanggal 27 Februari 1987, Tonny Koeswoyo meninggal dunia dalam usia 51 tahun karena penyakit kanker usus yang dia alami.

Selama hidup, dia mengabdikan dirinya pada musik. Tonny memimpin saudaranya Yon, Yok, dan Nomo mengibarkan bendera Koes Bersaudara. Dengan masuknya Murry menggantikan Nomo, grup ini berganti nama menjadi Koes Plus.

Sepeninggal Tonny, Koes Plus tetap eksis di blantika musik Indonesia. Suara mereka masih menggema di nusantara lewat syair syairnya yang sederhana namun melekat dalam memori pendengarnya. Kini Koes Plus masih produktif dengan Yon Koeswoyo sebagai punggawa, meskipun tidak setenar masa muda mereka dulu.

Nusantara

Banyak cara yang kita lakukan untuk menikmati dan mengagumi segala hal. Salah satunya adalah melalui syair. Hal itu pulalah yang mengilhami Tonny Koeswoyo untuk meciptakan lirik lagu Nusantara I, “Kuharap kau tidak akan cemburu, melihat hidupku, hidupku bebas selalu kawanku, tiada yang memburu, di nusantara yang indah rumahku, kamu harus tahu, tanah permata tak kenal kecewa, di Khatulistiwa”.

Nusantara merupakan gabungan dari dua kata, nusa dan antara. Artinya pulau-pulau yang dihubungkan oleh lautan. Kata ini mulai dikenal pada masa kerajaan Majapahit, tepatnya ketika Mahapatih Gajahmada mengucapkan Sumpah Palapa di hadapan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Nusantara, dalam kitab Pararaton, digunakan pada masa lalu untuk menyebut negeri yang sekarang bernama Indonesia.

Dalam sebuah acara di TV swasta, Yon mengungkapkan bahwa Tonny mendapatkan inspirasi lagu ini ketika diajak terbang naik helikopter. Tampaklah dari udara keindahan bumi pertiwi. Bait pertama di atas menunjukkan ekspresi terhadap obyek yang dikagumi Tonny. Dari kekaguman itu, timbul rasa memiliki (sense of belonging) sekaligus ketidakrelaan apabila kehilangan.

Bait kedua “Hutannya lebat seperti rambutku, Gunungnya tinggi seperti hatiku, Lautnya luas seperti jiwaku, Alamnya ramah seperti senyumku,Tanahnya subur seperti tubuhku, Unggasnya bebas seperti hidupku”.

Syair di atas menjawab pertanyaan bait pertama. Mengapa Tonny harus merasa memiliki dan tidak mau kehilangan. Ternyata di nusantara terdapat kesuburan tanah, kekayaan laut dan keindahan alam dan keseimbangan sistem ekologi. Sementara kata “seperti” dalam syair “hutannya lebat seperti rambutku” adalah analogi sebagai ekspresi jiwa zaman personel grup ini.
Melalui pembacaan Heuristik (Reffaterre: 1978), sebuah syair dapat dijadikan alat untuk mengungkap ideologi dan latar belakang penciptanya. Nusantara jilid I ini adalah salah satu lagu dalam Pop Indonesa Koes Plus Volume 5 yang diproduksi tahun 1971. Agaknya Tonny merasakan kebebasan berekspresi melalui musik di awal orde baru. Waktu orde lama, pemerintah menyebut musik Koes Bers dengan ngak ngik ngok yang identik dengan kapitalisme Barat. Angin orde baru dirasa kondusif bagi Tonny untuk berkarya. Sehingga dalam syair terakhir lagu Nusantara terdapat luapan emosi dan perasaannya.

Nusantara I memberikan inspirasi bagi Koes Plus untuk menciptakan lagu Nusantara lainnya. Pop Indonesia Volume 6 dan 7 tidak ada lagu Nusantara-nya. Dalam Pop Indonesia Volume 8 sampai volume 14, Koes Plus senantiasa menciptakan lagu Nusantara di setiap albumnya. Rangkaian lirik lagu nusantara berjumlah 8 buah dan kebanyakan diciptakan oleh Tonny. Sedangkan lirik lagu Nusantara III dan V diciptakan oleh Yok.

Unik
Nusantara I menjadi bahan pijakan dari lirik lagu Nusantara selanjutnya. Nusantara I sampai VIII memuat pandangan sosiologis, estetis sekaligus historis grup musik Koes Plus terhadap Indonesia. Satu dan lainnya memiliki beberapa karakteristik yang unik berupa pengulangan kata. Dalam hal ini terdapat beberapa macam pengulangan. Pertama, kata-kata yang diulang mewakili unsur alam yang sangat penting dan mendasar bagi manusia. Sebut saja tanah, air, dan hutan.

Berikut adalah bagian dari bait Nusantara I, IV dan VI , “Lautnya luas seperti jiwaku”, “Parit dan sungai dan bengawan Jernih mengalir dari hutan”, dan “Laut luas berlayarlah perahu menyusuri”. Air dalam berbagai bentuknya disebutkan sebagai sungai dan laut.

Pengulangan kata tanah terdapat dalam syair “Tanah permata tak kenal kecewa di khatulistiwa, Tanahnya subur seperti tubuhku”, “tanah yang kaya bagai permata Nusantara”, “Bumi nusantara tiada tandingannya Lihatlah lihat sawah ladang, betapa subur menyenangkan”, “Disana tempatnya tanah idaman kita semua”, “Padang hijau belum termakan sapi, Sawah ladang Kuning meluas tanaman padi” dan “ Ribuan pulau tergabung menjadi Satu sebagai ratna muti manikam”. Hanya Nusantara II yang tidak ada kata tanah, namun Koes Plus mengungkapkan rasa sayang karena kesuburan, keindahan dan kekayaan Nusantara. Sebagaimana tanah dan air, hutan menjadi bagian terpenting kehidupan manusia.
Kedua, kata Khatulistiwa diulang untuk mengabadikan fakta geografis Nusantara. Beberapa pulau kita dilewati oleh garis Khatulistiwa. Sebuah garis imajiner yang membagi bumi menjadi dua bagian. Di sana juga menjadi jalur peredaran matahari. Pulau-pulau besar yang dilewati garis ini adalah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Maka tidak heran kalau Koes Plus menyebut Nusantara berada di Khatulistiwa.

Ketiga, kata yang diulang secara hiperbola sebagai ungkapan kecintaan dan kekaguman. Misalnya dalam syair “lautan bunga terhampar sekitar kita”, “burung berkicau riang menari” dan “nusantara, inilah surga di dunia”.

Lirik Nusantara I-VIII merupakan cerminan nasionalisme sebuah grup musik Koes Plus. Selain serial nusantara, grup ini juga menciptakan syair lagu bertema sama. Yang paling populer di antaranya adalah lagu kolam susu.

Penggunaan kata Nusantara bukan berarti menafikan kata Indonesia. Barangkali di balik itu Tonny Koeswoyo ingin membangkitkan kembali Nasionalisme yang dimiliki oleh Gajahmada melalui Sumpah Palapa.

Penggambaran metaforis mengenai keindahan alam seperti lebatnya hutan, jernihnya air, suburnya tanah tidak bisa lepas dari latar belakang pengarangnya. Pada waktu itu keseimbangan ekosistem di Indonesia masih terjaga dibandingkan sekarang. Sehingga gubahan lirik Nusantara menggambarkan yang indah-indah saja.

Seandainya Tonny Koeswoyo masih hidup, tentu ia akan kaget. Banyak lagu ciptaannya yang sudah kehilangan relevansi. Hutan tidak lagi lebat karena maraknya penggundulan, kicau burung berganti raungan mesin, pencemaran air di laut dan sungai, serta sawah ladang yang ditanami gedung bertingkat. Harapan kita, semoga lagu Nusantara tetap didengarkan dan menjadi kritik sosial agar kita senantiasa menjaga keseimbangan.