Rekonstruksi Citra Museum

oleh Eni Setyowati
Pencurian dan manipulasi benda-benda di museum Radya Pustaka akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang menarik. Peristiwa ini menjadi heboh karena diduga melibatkan keluarga keraton Kasunanan Surakarta dan pengelola museum.

Kasus di atas barangkali merupakan satu dari sekian kasus yang baru terbongkar. Kita belum tahu bagaimana nasib museum yang lain. Kiranya perlu peninjauan dan kajian khusus untukmeneliti keberadaan museum di seluruh Indonesia. Apa sudah memenuhi kriteria fungsi untuk menjadi museum yang baik.

Fungsi museum di Indonesia selama ini adalah pertama, sebagai tempat untuk mendokumentasikan segala kegiatan yang bernilai sejarah dari zaman ke zaman. Kedua, memberikan edukasi, informasi dan rekreasi kepada para pengunjung. Ketiga, berunsur ilmiah sehingga menunjang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keempat, berdaya hidup, sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat dan ditekuni oleh para ilmuwan.

Museum di Indonesia saat ini hanya terdapat beberapa saja yang menarik dan terus diperbaharui. Penyebabnya ada banyak faktor apabila dilihat dari segi pengelolanya. Yang pertama dikelola langsung oleh pemerintah dan lainnya oleh pihak swasta. Namun di sini penulis tidak selalu beranggapan bahwa museum yang dikelola oleh swasta selalu kalah menarik dengan yang dikelola oleh pemerintah, ataupun sebaliknya.

Sebenarnya kalau kita sadar fungsi dari museum, maka nasib yang dialami Radya Pustaka tidak perlu terjadi. Karena dalam museum terdapat dua fungsi yang sanagt penting. Pertama fungsi sosial, kedua fungsi penyebaran dan terakhir fungsi ekonomis.

Fungsi sosial sebuah museum adalah sebagai gambaran perikehidupan manusia di masa lampau. Di sana kita akan menemukan benda-benda yang bernilai artefak, sosiofak (fakta sosial) dan mentifak (fakta mental). Dari benda itu kita belajar menguarai masa lalu untuk memprediksi keberadaan masa depan.

Fungsi penyebarannya adalah bahwa benda yang terdapat di sebuah museum tentunya berasal dari sebuah peradaban yang berserakan di banyak tempat. Kemudian dikumpulkan dalam sebuah museum agar nudah bagi kita untuk belajar.

Fungsi ekonomi museum adalah sebagai tempat menggantungkan hidup bagi banyak orang. Semua museum pastinya membutuhkan perawatan dan pengelolaan. Apabila pengelolaanya profesional dan menimbulkkan daya tarik pengunjung, fungsi ini baru berjalan. Selama ini, museum hanya difungsikan sebagai sarana edukatif, hal inipun tidak maksimal.

Beberapa waktu yang lalu Direktur Jenderal Sejarah dan Kepurbakalaan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Hari Untoro Dradjat menegaskan pada sebuah surat kabar, museum daerah harus mampu mengubah paradigma lama fungsi museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda purbakala yang memiliki nilai sejarah. Pengelolaan museum harus memasukkian aspek kepariwisataan agar minat berkunjung ke museum tidak hanya dari kalangan anak pelajar.

Selama ini museum identik sebagai tempat penyimpanan benda-benda yang memiliki nilai sejarah. Paradigma lama itu harus diubah agar museum tidak hanya memiliki fungsi untuk pendidikan maupun penelitian.

Untuk itu, museum di Indonesia harus segera berbenah. Baik dalam sarana maupun prasarana. Citra desain secara ideal bersifat kontekstual dalam arti ditentukan oleh ruang lingkup perancangan yang berkait dengan aspek pertimbangan desain (fungsi, struktur, dan estetika) dan aspek lingkungan seperti Ietak geografis, politik, ekonomi, sosial. Citra desain tampak antara lain melalui bentuk. Dengan demikian kajian bentuk seperti estetika bentuk yang meliputi kajian kritis, semiotik karakter unsur rupa dan prinsip desain yang mendasari komposisi dalam proses perancangan dapat menjadi salah satu pendekatan citra kontekstual.

Keragaman citra desain pada bangunan publik museum yang tampak melalui bentuk bangunan merupakan salah satu kasus kajian citra kontekstual. Ditinjau dari sejarah museum, perkembangan citra pada bangunan museum ditentukan oleh kondisi sosial,politik dan kebudayaan yang melingkupinya. Perluasan fungsi museum dari fungsi koleksi menuju fungsi pendidikan dan rekreasi serta jenis materi koleksi yang ditampilkan merupakan faktor-faktor yang menentukan perkembangan citra pada bangunan museum tersebut. Pada awal perkembangan museum citra yang muncul adalah tertutup dan pasif. Perkembangan citra museum pada saat ini mengarah pada keterbukaan dan kedinamisan.